Di Belakang Kamu Bilang, Di Depan Kamu Diam

Sedikit update. Jadi akhir-akhir ini nggak bisa nulis diblog karena sibuk ngurusin nyari tanda tangan dosen sama nglengkapin berkas biar surat keterangan lulus cepet keluar. Dan akhirnya, semua kelar. Fiuh. Kedua, di awal bulan aku sempet ikut rangkaian acara Stand Up Comedy Juru Bicara punyanya Pandji. Termasuk juga dapet kesempatan Meet And Greet yang isinya nonton bareng Menemukan Indonesia ditambah sesi tanya jawab sama si doi. Hasilnya kita bisa selfie bareng dan dapet sudut pandang yang baru. Faigk!

Soal stand up nya Pandji, salah satu bit yang aku suka di hari itu adalah dunia pertelevisian Indonesia yang makin parah. Dikit-dikit sensor. Sensor dikit-dikit. He. Menurut Pandji yang sudah malang melintang di dunia telivisi (pastinya). Kalo masalah sensor menyensor sebenarnya bukan salah KPI tapi KPU (lah kok jadi pemilu?). Oke-oke serius.

Masalah sensor menyensor sebenarnya bukan salah KPI tapi salah si stasiun tivi. Jadi sebenarnya KPI hanya bertugas sebagai pihak yang memberi teguran kepada stasiun tivi kalo ada siaran yang menyalahi aturan. Dan sensor dilakuin sama tivi tanpa ada campur tangan KPI. Nah, menurut Pandji sebenarnya orang-orang tivi terlalu sensitif untuk melakukan sensor terkait apa yang mau mereka siarin. Orang-orang tivi mikirnya kalo pemikiran pemirsa sama dengan pemikiran mereka. Misalnya, orang tivi mikir kalo pemirsa melihat belahan dada akan jadi napsu. Padahal bisa jadi yang napsuan sebenarnya orang-orang tivi (proyeksi). Lah berarti yang bermasalah pemikiran mereka dong? Bukan pemikiran pemirsa. Lagian, nggak semua pemirsa mikirin kayak begituan. Jadi jangan pukul rata dong. Begini dah akibatnya, dikit-dikit maen sensor. Nggak usah belahan dada deh. Susu sapi yang lagi diperah aja disensor. What the hell!! (Ehm, bahasa Inggris aku bener kan ya?).

Sebenarnya, selain soal sensor menyensor dari dulu banyak stasiun tivi di Indonesia yang nayangin acara yang nggak penting. Salah satunya infotainment. Kebanyakan acara infotainment di Indonesia sukanya bahas-bahas hal yang sepele. Misalnya bahas harga sepatu artis si A atau isi tas artis si B (ini juga sempet dibahas sama Pandji). Dan infotainment Indonesia cenderung mengarah ke gosip. Dan gosip identik sama ngomongin kejelekan orang lain. Nggak usah jauh-jauh di tivi deh. Bahkan belum lama ini pas aku sama temenku lagi makan. Tepat di depan kami ada tiga orang cewek yang lagi ngomongin kejelekan orang lain.

Gini ceritanya. Jono seorang temen pengen makan pepes. Ya udah to ya, aku ngikut aja karena dia pengen makan pepes dan aku juga nggak keberatan kalo malam itu makan pepes. Berangkatlah kami ke warung pepes. Awalnya, kami duduk dengan damai dan sejahtera. Tapi beberapa menit kemudian tiga orang cewek duduk di depan kami. Dan sejak mereka duduk sejak itu pula bencana bagi Jono dan aku.

Sedari awal makan sampe piring jadi kosong mereka bertiga nyinyir mulu. Kalo dari ceritanya sih mereka ngomongin satu orang yang mereka anggap sebagai biang kerok dari ketidakbecusan sebuah kepanitiaan. Iya, kayaknya mereka bertiga adalah mahasiswa. Mulai dari ngomongin si A sukanya marah-marah dan sukanya protes mulu. Dan kedengarannya dari cerita mereka, si A ini kedudukannya tinggi. Mungkin Yang Mulia (ini kepanitiaan atau Benteng Takeshi?).

Okelah, ngomongin orang lain itu hak mereka dan urusan mereka. Tapi masalahnya terselip kata-kata kasar di saat mereka ngomongin si A. Di tambah volume omongan mereka cukup keras. Di tambah lagi mereka ngomongnya di depan umum. Sinting! Sempat juga mereka kami tegur mereka sambil menyindir. E tapi dasar kuping kesumpel popok bayi kali ye. Ditegur sambil disindir tetep aja nggak ngerasa. Sinting! Oke, cukup. Aku kebawa esmosi.

Ehm, kata yang tepat untuk mereka adalah salah tempat. Kenapa mereka nggak ngomong langsung ke si A kalo sebenarnya si A itu salah dan Si A itu kerjanya nggak becus. Memangnya ketika ngomongin si A dibelakang keadaan akan berubah? Salah satu dari mereka bilang, “Lah tadi si A, sok ngasih tahu kalo tempat Z nggak ada yang jaga. Heloo, emang kamu (si A) ke mana aja pas yang lain lagi sibuk jaga. Harusnya kamu (si A) yang jaga dong!”. Lalu yang lain jawab, “Kamu bilang gitu ke si A?”. Orang yang tadi ngomel jawab, “E.. enggak. Aku cuma kepikiran aja.”. Gubrak! Sandal jepit lo! Beraninya di belakang doang.

Entah sejak kapan, aku udah lupa. Aku semacam bikin janji sama diri sendiri untuk nggak ngomongin keburukan orang lain di belakang. Dan berlagak baik ketika ketemu orangnya. Bukan berarti aku nggak pernah ngelakuin sih. Pernah. Lah barusan tulisan tadi kayaknya habis ngomongin orang deh. Tapi jarang banget dan berusaha ngilangin hal macam gitu. Bahkan kalo ada orang yang suka ngomongin kejelekan orang biasanya aku berusaha nggak ikutan atau ngerem diri sendiri supaya nggak “kepanasan”. Maksudku berusaha untuk nggak kemakan omongan. Sejauh ini kalo aku nggak suka sama seseorang aku akan bilang ke orangnya langsung. Atau membenci sifatnya tapi bukan orangnya. Atau paling mentok nggak mempedulikan orang itu. Dan kurasa itu adalah pilihan terbaik saat ini daripada ngomongin di belakang dan menjelek-jelekan orang itu. Bagiku itu bukan termasuk ke dalam pilihan.

Mungkin ketiga orang tadi emang baik, cuma karena lagi marah aja. Makannya mereka ngomongnya di belakang. Dan semoga aja sih apa yang mereka lakuin bukan jadi kebiasaan. Ayolah emang apa sih manfaatnya punya kebiasaan ngomongin kejelekan orang?

Kecuali kalo ngomongin kejelekan orang jadi salah satu syarat bagi manusia untuk masuk surga, menambah karma baik, atau membuat hidup di masa mendatang jadi lebih sejahtera. Nah, kalo kayak gitu manfaatnya, mungkin aku akan sering ngomongin kejelekan orang. Jadi sebuah kebiasaan. Bahkan jadi agenda saat keluar rumah. Menjadi alasan utama untuk melupakan keadaan pertelevisian Indonesia yang semakin parah saja. Tolak sensor belahan dada!