Suatu Hari di Tukang Foto Copy (kok kayak judul FTV yak?)


Waktu itu aku masih SMP, tepatnya saat pelajaran Teknik Informatika di Lab. Komputer.

Seperti biasa sebelum pelajaran dimulai kami iseng memainkan komputer di depan kami. Kebetulan di komputerku ada satu folder terpampang di dashboard bernama Jangan Dibuka.

Seperti yang bisa diduga nama folder seperti ini justru malah bikin penasaran untuk diklik. Tapi sepertinya keputusan itu justru bikin emosi, karena folder tadi cuma folder jebakan. Isinya hanyalah folder di dalam folder.

Klik folder: Jangan Dibuka.

Muncul folder lagi: Dibilangin Jangan Dibuka.

Klik lagi.

Muncul lagi: Nekat Ternyata.

Klik lagi.

Ngeyel.

Klik lagi.

Ini Kosong.

Klik lagi.

Gak Percaya.

Sudah begitu, meski sudah tahu kalo dikerjain, tetep aja aku terus lanjut ngeklik. Dan emang bener, setelah semua folder aku klik, ternyata isinya emang….kosong. Padahal dari awal aku berharap kalo isinya benar-benar mengejutkan, isi blewah misalnya (?).

Ya begitulah, selain alasan yang paling ngeselin tadi yaitu ngerjain orang, kita pernah melakukan hal ini, membuat folder penyimpanan di komputer yang nama folder dan isinya saling bertolak belakang.

Selain alasan tadi, ada beberapa alasan lain seperti, pengen menyembunyikan sesuatu, atau untuk menggambarkan isinya.

Misalnya, foldernya bernama Kiamat tapi setelah dibuka ternyata isinya skripsi atau tugas kuliah. Mungkin karena saking beratnya skripsi sama tugas kuliah sampai-sampai rasanya mau kiamat, maka foldernya pun ditulis dengan nama Kiamat.

Atau untuk menyembunyikan sesuatu. Misalnya, foldernya bernama Tugas Penting tapi pas dibuka ternyata isinya kumpulan bokep. Atau yang absurd sedikit, foldernya bernama Musik tapi pas dibuka isinya ternyata blewah (?). Ya, namanya juga absurd.

Nggak terkecuali aku. Belum lama ini aku membuat jenis folder seperti ini.

Cerita Yang Berkaitan Sama Postingan Ini : Jodo Adalah……

Saking seringnya memasukan lamaran kerja ke mana-mana melalui email, di laptopku sekarang bertambah satu folder lagi yaitu folder bernama Lamaran Kerja.

Kegiatan yang sering aku lakukan ini membuat isi folder Lamaran Kerja ternyata semakin hari semakin banyak. Dan ini juga yang membuatku mengganti nama folder Lamaran Kerja menjadi folder bernama Melamar Kamu.

Ya, seenggaknya meski belum merasakan melamar seseorang, aku sudah merasakan bagaimana melamar kamu (baca: melamar perusahaan).

Suatu hari seperti biasa aku sedang membuat surat lamaran karena ada satu kerjaan yang menurutku menarik. Dan surat itu harus aku kirim langsung serta berbentuk cetak.

Masalahnya adalah di rumah emang nggak ada printer. Dan Berhubung di rumah nggak ada printer, maka salah satu solusi dari masalah ini adalah naik motor sambil bawa flash disk, lalu pergi ke tukang foto copyan, lalu nge print, lalu masalah pun bisa selesai.

Pergilah aku ke tukang foto copyan, naik motor, dan membawa flash disk.

Di tempat tukang foto copyan ternyata ada tiga mas-mas yang lagi jaga. Satu sedang sibuk di depan mesin foto copy, satu sedang sibuk ngetik di komputer, dan yang satunya lagi nggak kelihatan karena sedang di balik mesin foto copy. Mungkin dia sedang sibuk mengupas blewah (oke-oke, jokes yang ini emang nggak berhasil).

Mengingat keperluanku adalah nge print, maka aku langsung bergegas ke mas-mas yang di depan komputer. Dan mulai dari sini kejadian akward itu pun terjadi.

Aku mendatangi mas-mas yang sedang di depan komputer kataku, “Mas, nge print.”

“Nge print sendiri atau saya print kan?” Tanyanya.

“Masnya aja deh sekalian,” Aku menyerahkan flash diskku lalu masnya mencolokan flash disk ke komputer.

Dan di sinilah aku baru ingat. Saat masnya membuka flash disk, aku baru ingat kalo dokumen yang harus aku print berada di folder Melamar Kamu.

“Yang mana mas?” Tanya masnya karena di flash diskku ada banyak folder  selain folder Melamar Kamu.

“Yang Me..melamar…..,” Jawabku nanggung karena sampai di sini aku menduga kalo ini diteruskan nanti aku dikira mau melamar masnya.

“Melamar?” Tanya masnya karena belum nemu folder yang kumaksud.

“Iya mas, Melamar.”

Masnya mencari sekali lagi, lalu beberapa detik dia bisa menemukan folder yang kumaksud, “Oo yang Melamar Ka…,” balas masnya dengan jawaban nanggung. Mungkin dia berpikir kalo ini diucapkan, dia berasa sedang melamar cowok yang ada di depannya.

Kami saling menatap sebentar.

Tatapan saling najis tepatnya.

Dokumen pun berhasil di print, lalu aku membayar, dan bergegas pulang. Sejak saat itu aku pun berpikir ulang tentang nama folder. Mungkin setelah kejadian ini aku akan mengganti nama folder Melamar Kamu. Supaya nggak ada lagi kejadian akward saat nge print surat lamaran di tukang foto copyan.

Iya deh kayaknya emang harus ganti. Dan salah satu nama pengganti folder Melamar Kamu  yang baru kepikiran adalah, Melamar Kamu Kalo Kamu Yang Ngeprint Isi Folder Ini Adalah Seorang Cewek Yang Sesuai Tipeku.

Iya sih, nama pengganti yang satu ini memang kepanjangan.


 

Jodoh Adalah….


Srek..srek…

Begitulah bunyi gesekan antara tembok dan cetok besi pipih saat aku meratakan adonan pelamiran. Pelamir sendiri umumnya disebut sebagai lapisan dasar sebelum pengecatan. Dan atas dasar rasa bosan serta pengen sebuah perubahan, akhirnya aku memutuskan buat ngecat kamar. Satu langkah brilian sebenarnya, seenggaknya bisa mengisi waktu luang (pada kalimat ini kalian bisa menyebut aku sebagai….pengangguran).

Bunyi yang lama-lama mulai terbiasa di telinga tiba-tiba memancing beberapa kereta pikiran dalam diriku. Salah satunya pikiran tentang ingatanku yang berputar jauh ke belakang.

Kejadian ini terjadi tahun lalu. Seorang teman bercerita kepadaku saat kami sama-sama sedang menunggu disalah satu antrean. Katanya,  “Na, aku ki gumun”—Aku nggak habis pikir.
“Kenapa?”
“Mosok udah beberapa kali seleksi pekerjaan aku ora diterima.”

Saat itu, seorang teman ini sudah mendapat banyak panggilan kerja. Sedangkan aku baru memasukkan beberapa lowongan kerja. Kondisi kami yang baru saja lulus membuat kami bernasib sama: sama-sama lagi nyari kerja.
“Bukannya wajar ya, kadang diterima dan kadang enggak.”
Ora ngono Na.”—Nggak gitu Na. Lanjutnya, “Maksudku, apa aku yang salah ya? Soal e,  hampir lima perusahaan udah nolak aku.”

Aku berpikir sejenak lalu menjawab, “Em, gitu ya? Iya sih, bisa jadi gitu. Atau bisa jadi karena kerjaan itu emang belum jodohmu.” Kataku berusaha membesarkan hati seorang teman tadi.

Singkatnya, akhirnya dia berhasil mendapatkan pekerjaan di salah satu perusahaan ternama dan sepertinya dia benar-benar betah di sana. Mendengar kabar itu, aku cuma tersenyum. Aku ikut bahagia karenanya, seorang teman tadi akhirnya kini “berjodoh”.

Hal yang sama soal “berjodoh” tadi juga dialami kakakku. Sekarang akhirnya dia pun telah bekerja, merasa betah di sana, dan sering ngasih pesangon pula. Padahal dulu sekali, saat seorang kakak ini belum dapat kerja. Dia gigih berusaha, mencoba kemana-mana, sampai buku Jurus Jitu Diterima Di Perusahaan Yang Kamu Sayangi Melebihi Sayangnya Kamu Terhadap Pasangan disingkat JJDPYKSMSKTP pun dia beli. Dan belum lagi atas keadaan itu pula terkadang aku mengejeknya.

Setelah kejadian pertemuan dengan seorang teman tadi, sekarang giliran aku yang justru merasakannya, merasakan seleksi kerja. Dan sampai pada suatu titik aku seperti teman tadi, merasa heran sendiri. Ternyata mencari kerja sesulit ini.

Belum lagi aku sampai kepikiran kalo aku kena karmanya. Karena beberapa teman juga sempat mengejek aku saat aku masih menganggur. Dan yaa kena ejekan seperti ini ternyata nggak mengenakkan, rasa-rasanya ini sensitif karena berkaitan dengan status, keuangan, dan masa depan. Mungkin ini juga yang dirasakan kakakku dulu saat sedang kuejek.

Hal lainnya yang aku sadari adalah, mungkin teman-teman yang mengejek ini adalah teman yang belum pernah merasakan menjadi pengangguran. Belum pernah merasakan ditolak berkali-kali sama perusahaan, belum pernah merasakan bahwa ini lebih sulit daripada mengatakan. Persis dulu yang pernah aku lakukan.

Dan karenanya, pada posisi ini aku cuma mau berpesan. Jika kamu punya teman pengangguran yang masih berjuang. Jangan kamu ejek dia, kasih lah support yang lebih positif, support yang bisa membesarkan hatinya. Kasih dia tenaga, jangan kamu gembosi roda-roda asanya.

Kini setelah beberapa bulan berlalu sejak bunyi srek..srek itu (bunyi khas cetok besi pipih dengan pelamiran), pengecetan kamar pun selesai. Gesekan-gesekan pemecah hening malam telah usai. Sekaligus, setelah sekian kali mencoba akhirnya kini aku diterima kerja juga. Sekarang yang tinggal aku lakukan adalah menjalaninya. Mencari tahu apakah kerjaan yang satu ini bisa “berjodoh” seperti seorang teman dan seorang kakak tadi. Karena memang begitu, jodoh bukan melulu soal pasangan tapi juga soal pekerjaan.


Sumber gambar:

http://cdn.zettamedia.co/rockingmama/carolinaratri/original/2016-09-21-02-03-18-bekerjadirumah08.jpg

Seperti Kamen Rider


Sejak kenal Kamen Rider Riyuki sejak itu pula aku menyukai serial Kamen Rider. Bahkan sebelum Kamen Rider Riyuki muncul, ada generasi pendahulunya yang sangat terkenal waktu itu. Iya, kamu benar Satria Baja Hitam.

Saking sukanya sama Kamen Rider, waktu kecil aku dan kakakku sepertinya nggak pernah absen menonton serial ini. Setiap hari minggu pagi, kami pasti sudah siap di depan tv pakdeku hanya untuk nungguin serial Kamen Rider muncul.

Setelah aku tumbuh dewasa kebiasaan ngikutin Kamen Rider pun juga masih berlanjut. Bahkan saat kuliah, di semester awal aku sampai bela-belain ke salah satu warnet di Jogja hanya untuk mendownload serial ini.

Salah satu alasan kenapa aku suka dengan serial yang satu ini adalah karena aku suka dengan gaya mereka kalo sedang berubah. Seperti biasa kalo musuh sudah di depan mata, pasti mereka akan memasang posisi iconic. Dan dengan beberapa gerakan mereka pun berubah dengan cepat menjadi seorang Kamen Rider.

Kamen Rider Ryuki  dan Satria Baja Hitam

 

Saat tumbuh dewasa ternyata saat itu juga banyak perubahan disekitar kita yang mengikutinya. Salah satunya perubahan yang aku sadari adalah perubahan orang tuaku di rumah. Terutama perubahan secara fisik.

Perubahan itu aku sadari setelah menyelesaikan kuliah dan saat itu juga aku punya banyak waktu untuk di rumah. Banyaknya kesempatan untuk menghabiskan waktu dengan orang tua ini, membuat aku semakin jeli mengamati perubahan mereka. Ibuku misalnya, setelah aku perhatikan ternyata sekarang rambut ibuku sudah mulai beruban. Dan garis-garis keriput sudah mulai terlihat di wajahnya. Bapak juga begitu, rambut bapak juga sudah beruban. Bahkan semua rambutnya sudah memutih. Dan kalo sudah begitu biasanya bapak akan menyemir rambut, supaya penampilannya terlihat lebih fresh.

Padahal sepertinya baru kemarin aku melihat mereka masih begitu muda. Di saat aku nggak bisa apa-apa, masih digendong mereka, di ajak main kemana-mana, dan merengek supaya dibelikan sesuatu yang aku minta. Tapi tahu-tahu sekarang mereka sudah menunjukkan tanda-tanda penuaan.

Selain orang tua, ternyata orang-orang terdekat juga ikut berubah. Teman SMP yang tahu-tahu sudah mau menikah. Saudara yang dulunya baru kelas satu SMA tahu-tahunya udah lulus. Atau keponakan yang dulunya belum bisa apa-apa sekarang sudah jadi keponakan yang pinter naik sepeda roda dua.

“Om liat om aku udah bisa naik sepeda lho.” Pamer keponakan saat aku mampir ke rumah mbakku.

“Iya, ini om juga lagi liat.” Lalu setelah itu si keponakan kebut-kebutan di komplek perumahan. Menikung ke kanan dan ke kiri. Benar-benar mendalami peran sebagai seorang pebalap.

Perubahan kayak gini, kok cepat sekali ya?

Padahal kalo dipikir-pikir sebenarnya ini adalah perubahan alami yang  berproses atau berlangsung secara nggak instan. Tapi karena kita sudah terbiasa hanyut dalam waktu, entah itu; kesibukan, kebahagiaan, atau kesedihan. Perubahan yang sebenarnya berproses tiba-tiba bisa terasa begitu cepat. Bukankah begitu?

Kamen Rider Gaim

Sekarang aku pun juga berubah karena aku sekarang sudah nggak lagi ngikutin serial Kamen Rider. Mungkin  terakhir aku menonton serial Kamen Rider pada tahun 2015. Tepatnya menonton serial Kamen Rider Gaim.

Tapi meski begitu satu hal yang aku sadari, sebenarnya aku hidup diantara perubahan, baik perubahan diri sendiri atau perubahan yang dialami orang lain. Hidup diantara perubahan yang sering kali terasa cepat. Iya, sekali lagi waktu yang cepat berlalu membuat perubahan yang sebenarnya mengalami proses, berubah menjadi perubahan yang terasa cepat.

Perubahan yang terasa begitu cepat seperti perubahan seorang Kamen Rider.


 

Sumber gambar:

http://orig04.deviantart.net/fac0/f/2015/228/d/d/kamen_rider_ryuki_wallpaper_by_malecoc-d95w2s0.png

https://i.ytimg.com/vi/FJS13e8ms3I/maxresdefault.jpg

http://orig13.deviantart.net/e9d5/f/2013/334/7/4/74d42e92aaf0ad8f3447b3fa30a69b0a-d6w7cyi.jpg

Dari Sekian Banyaknya


Ada banyak hal yang aku pikirkan akhir-akhir ini. Salah satunya adalah blog ini.

Tepat 4 Oktober 2016, aku memutuskan untuk membeli domain dan pindah ke blog ini. Suatu keinginan yang akhirnya terwujud setelah menyisihkan beberapa uang. Yeeeyy! Itu pun di minggu-minggu pertama blog ini jadi, aku harus berhadapan dengan satu masalah.  Yaitu, aku baru ngeh, kalo ternyata sebuah blog bisa terkena virus.

Sewaktu blog ini terkena virus pun, spontan aku kaget karena ketika blog ini dibuka, tiba-tiba halaman depan blog terlihat putih bersih, kayak bayi yang baru lahir. Setelah kaget, di depan layar laptop aku hanya bisa bengong, garuk-garuk kepala, sambil nyengir kuda, “INI BLOGKUU KENAPAAAH?”

Singkatnya, meski sebenarnya proses itu nggak singkat, akhirnya blog ini kembali seperti semula setelah berkonsultasi dengan salah satu penyedia jasa pembelian domain di mana aku beli.

Tapiiii….sejak per tanggal 4 Oktober 2016 blog ini lahir, ceprot, lalu oek-oek, baru tulisan Ketemu Kamu yang berhasil aku tulis. Sisanya hanyalah postingan-postingan lama dari blog lama yang aku pindah ke blog ini.

Ada banyak hal yang aku pikirkan akhir-akhir ini.

September 2016, sebulan sebelum membeli domain, aku akhirnya mulai merancang sebuah naskah buku. Dan barulah bulan November sebuah naskah coba aku tulis secara utuh. Sedianya sendiri, naskah itu selesai secepat mungkin. Tapi pada perjalanannya ternyata banyak tulisan yang harus diubah bahkan ada juga yang harus diketik ulang. Proses ini terus berulang sampai aku menemukan format yang pas, dan sesuai apa yang aku sukai.

Proses ini terjadi sampai sekarang. Jadi jika dihitung sejak postingan ini terbit, maka sudah lima bulan aku menulis buku nggak kelar-kelar. Dan ada kemungkinan waktu itu akan terus bertambah. Jadi mungkin bisa disimpulkan kalo bukuku akan terbit pada akhir jaman.

Ya, nggak lah!

Gini-gini, targetku sendiri, tahun ini 2017 buku itu terbit. Tapi dengan catatan, penerbit yang aku inginkan langsung menerima naskahku dan bisa diterbitkan. Mengingat, bagi yang belum tahu, proses mengajukan naskah sendiri cukup lama. Rata-rata semua penerbit maksimal akan memberi waktu selama empat bulan untuk melihat sebuah naskah buku, dan jika lebih dari itu nggak ada kabar, maka sudah pasti naskah itu ditolak. Terus kalo ditolak? Ya nyari penerbit lain, begitu terus sampai ada penerbitan menerima sebuah naskah buku. Makaaa, ya sudah bisa dipastikan bukuku memang akan terbit pada akhir jaman.

Sial, keknya emang gini deh nasib gue.

Bercanda ding. HA! Amit-amit (sambil ketuk-ketuk meja). Ya, doakan saja ya, naskahnya segera selesai. Amin.

Nah, lalu apa hubungannya dengan blog ini? Hubungannya adalah, selama aku menyelesaikan naskah itu, dengan terpaksa aku menyimpan keresahanku dan nggak aku tuliskan di blog ini. Sebagai gantinya, secara penuh, aku membagikan keresahanku ke dalam naskah itu sendiri. Jadi itu kenapa aku jadi jarang update lagi. Padahal punya blog itu, seperti punya istri, harus dirawat dan diperhatikan. Pun juga dengan sebuah blog, perlu diperhatikan dan diberi postingan berkala. Dan kalo sudah gitu, semoga dengan keadaan ini aku nggak ditalak tiga sama blogku sendiri.

Lagi, ada banyak hal yang aku pikirkan akhir-akhir ini.

Selain menulis, sebagai seorang yang sudah lulus kuliah, sekarang aku masih berjuang mencari pekerjaan. Dan yhaa, sampai postingan ini terbit, belum ada satu pun tempat kerja yang berjodoh. Sekali ke Ungaran, dua kali ke Jakarta, dan dua kali di Jogja. Masih nihil semua.

Tapi meski begitu bukan berarti hal itu nggak ada sisi baiknya. Karena jawabannya jelas pasti ada, dan aku sudah merasakannya.

Selain waktu menganggur bisa digunakan buat menyelesaikan naskah buku. Ternyata di sela-sela itu, ada hal-hal lain yang aku pikirkan, bisa aku wujudkan. Diantaranya, akhirnya aku bisa membeli dua album dan satu album berisi sebuah pentas kolaborasi milik Banda Neira. Lalu, keinginan buat mengecat tembok kamar akhirnya bisa juga keturutan. Bahkan bersama masku—sebutan kakak laki-laki dalam budaya Jawa—kami bisa mengecat ruang tamu dan ruang tivi. Dan belum lama ini, kami bisa memperbaiki motor bapak yang sudah lama sekali bobrok, nggak terawat.

Sekali lagi,  ternyata ada banyak hal yang aku pikirkan akhir-akhir ini dan diantaranya sudah berhasil aku wujudkan. Sekarang tinggal mewujudkan sisanya pelan-pelan. Somehow, aku menikmati proses itu, tapi kadang juga aku mengalami stres karenanya. Dan kupikir ini terjadi memang karena sewajarnya seperti itu.

Tapi ada hal yang cukup melegakan bagiku, diantara riuh redannya banyak pikiran di kepalaku, sekarang aku sudah tidak lagi memikirkan kamu.


Ketemu Kamu


       “Kayaknya bakal telat, karena nunggu temen ke kos ambil barang.” Lanjutnya dalam sebuah chatting, “Kamu pelan-pelan aja yaaa. Maaf…. Kalo orangnya udah dateng aku otw ke situ kok. Soalnya orangnya telat, harusnya janji jam satu soalnya.”

          “Nggak papa…santai nggak usah buru-buru.”

         “Okeee.”                                            

Sebuah jam tangan melingkar di tangan kiri. Padahal sebelumnya jam itu sering sakit-sakitan. Kadang mati kadang hidup. Kadang juga mau aku jual kalo kepaksa dan butuh duit.

Padahal sebelumnya jam tangan itu baik-baik saja. Hanya saja sejak jam itu kehujanan pas aku naik motor, jam itu jadi “sakit-sakitan”. Kalo jam tangan itu bisa ngomong palingan dia akan bilang, “Ya nggak gini juga sih bos. Mentang-mentang gue anti air. Hacuih (bersin).”

Bahkan entah kenapa akhir-akhir ini jam tangan itu sering mati. Ah, mungkin sudah saatnya jam ini untuk diperbaiki. Tapi berhubung jam itu hidup lagi, jadilah sekarang jam itu melingkar lagi di tangan kiri. Jam menunjukkan pukul setengah tiga sore.

Sebelum pertemuan ini terjadi aku sempat ngechat Dia. Chattingan diantara kami pun semula hanya karena bertanya kabar satu sama lain. Tapi ternyata dari chattingan itu aku jadi tahu kalo Dia sedang berusaha buat daftar S2 di salah satu universitas di Surabaya.

Singkatnya Dia menjalani semua tes dengan lancar. Meski ada sekitar 25 soal yang nggak bisa Dia kerjain. Tapi pada akhirnya di hari pengumuman itu datang, Dia berhasil diterima di universitas itu.

Tentu saja aku ikut senang. Karena dulu Dia dan aku satu bagian. Dulu kami berpacaran tapi sekarang Dia dan aku bukan lagi satu kesatuan.

Sebelum Dia berangkat ke Surabaya kami memutuskan buat ketemuan di salah satu kedai di Jogja. “Kayaknya bakal telat, karena nunggu temen ke kos ambil barang.” Lanjutnya dalam sebuah chatting, “Kamu pelan-pelan aja yaaa. Maaf…. Kalo orangnya udah dateng aku otw ke situ kok. Soalnya orangnya telat, harusnya janji jam satu soalnya.”

         “Nggak papa…santai nggak usah buru-buru.”

         “Okeee.”

Begitulah pesan Dia melalui sebuah chatting sebelum aku sampe di tempat yang kami sepakati.

Jam di tangan menunjukkan jam tiga sore. Dan di sinilah aku sekarang, duduk sendirian. Segelas teh susu dengan topping oreo dan coffee jelly di atas meja. Aku menunggu Dia yang belum datang.

Jam di tangan menunjukkan jam tiga sore lewat lima belas. Biasanya ketika menunggu aku akan menghabiskan waktu menunggu dengan ngegame di hp atau membaca tulisan di hp atau buku. Tapi menunggu kali ini banyak kuhabiskan melihat ke arah pintu. Berharap Dia segera datang. Sekaligus gugup, karena untuk pertama kalinya setelah sekitar lima tahun, kami akan duduk di meja yang sama hanya berdua.

Pukul setengah empat kurang lima menit Dia datang. Di depan kasir Dia pun melihat sekeliling dan menaruh pandangannya di tempat aku duduk.

         “Kok duduk di sini sih?” Tanyanya setelah sampe di hadapanku. Lalu Dia duduk.

         “Tadi penuh soalnya.”

         “Pindah agak depan yuk.”

         “Oke.”

Kami pindah tempat duduk. Dia menaruh tas dan jaketnya di atas meja. Lalu aku menaruh hp dan gelas minumanku.

      “Jadi sebenarnya janjian sama orang itu jam satu. Tapi….” Dia memulai percakapan di antara kami dengan menceritakan seorang temen yang datang telat pas janjian. Dan karenanya Dia juga ikut telat.

Dia berdiri lagi mengambil pesanannya yang sudah jadi, segelas teh susu tapi dengan topping yang berbeda. Di meja kami kini ada dua gelas teh susu milik kita masing-masing. Dan sama halnya dengan dua gelas itu, kami menceritakan cerita kami masing-masing.

Aku bercerita tentang sebuah mimpi lama yang sedang aku wujudkan. Sedangkan Dia bercerita tentang apa yang akan Dia lakukan jika selesai S2. Tak jarang kami membicarakan teman kami. Kadang juga kami membicarakan hal sepele seperti, kenapa orang-orang di sebelah kami bisa ngerjain tugas meski suasana berisik. Hmm, sepertinya ini nggak seburuk yang aku bayangkan. Nggak ada kecanggungan diantara kami.

         “Apa lagi ya?” Tanya Dia.

         “Maksudnya?” Aku balik tanya.

         “Lah dari pada diem?” Sepertinya kami mulai kehabisan bahan pembicaraan.

         “Apa ya?”

Lalu kami sama-sama diam. Berusaha mencari bahan pembicaraan. Tapi yang ada aku malah menatapnya lama. Tanpa saling bicara pun, pertemuan ini sepertinya lebih dari cukup.

         “Mbok lihatnya jangan gitu banget?”

         “Eh?” Aku sedikit kaget, “Lah kenapa emangnya?”

         “Ndak papa.”

Kami pun diam lagi. Lalu Dia berusaha menatapku, mata kami saling bertemu beberapa detik. Lalu Dia tersenyum. Semuanya masih sama, senyumnya pasti bikin deg-degan.

         “Jadi kamu hutang tiga puluh menit.” Kataku mengawali pembicaraan.

         “Kok gitu?”

         “Kan katanya dari jam tiga sampe jam lima.”

         “Ya nggak lah, berapa menit sih aku telat?”

         “Uh, sekitar dua puluh lima menit.”

Sebenarnya aku nggak mau melihat jam tangan. Karena takut kalo waktu cepat berlalu dan ingin menikmati pertemuan ini. Belum lagi aku nggak mau mengulangi masa lalu. Dulu Dia pernah bilang kalo kita bakal pergi jalan nggak bisa lama-lama. Itu karena kosan Dia jam malamnya dikit banget. Dan karena itulah aku sedikit kecewa, sedikit ngebut saat boncengan berdua. Saat itu aku belum mengerti betapa kualitas saat bertemu itu lebih penting.

Tapi karena inget jam tangan sedang nggak beres, tanpa sadar aku mengarahkan tatapanku ke jam tangan.

         Lucunya Dia juga tahu apa yang sedang aku pikirkan, lalu Dia bilang, “Mbok dinikmati aja to.”

         “Eh enggak, ini tuh. Jadi akhir-akhir ini jam tanganku sering mati.”

Lalu Dia tersenyum seolah bertanya, “Masak?”

        “Jadi…” Aku mulai bercerita kenapa jam tanganku bisa hidup bisa mati tiba-tiba.

Kami di sore itu terus-terusan ngobrol. Bahkan di tengah-tengah kami sedang ngobrol Dia sempet keselek topping,         “Uhukh. Uhuk. Uhuk.”

        “Ish. Makannya pelan-pelan.”

Dia tersenyum seolah mau bilang, “Iyaaa.”

         Lalu Dia bilang, “Untung toppingnya nggak keluar. Kan bisa kena kamu.”

      “Iya, habis itu aku tangkis. Ciat. Ciat. Ciat.” Kataku sambil menggerakkan tangan seperti ninja yang sedang menangkis serangan.

       “Yee, nggak usah lebay gitu deh. Kan toppingnya cuma satu.” Katanya sambil tersenyum.

Nggak jarang juga kami memperdebatkan hal yang menggelikan dan jawaban dari Dia kadang bikin ngeselin. Sampe-sampe Dia bilang, “Lho. Kan aku jawab jujur Na, hehe. Aku kan orangnya jujur.”

        “Iya sih.”

        “Gimana aku kritis kan?”

        “Iya sih, kamu kritis secara berpikir. Tapi lama kelamaan aku juga kritis. Kritis secara kesehatan. Terus diinfus.”

        “Hahahahahaha.”Dia pun tertawa.

Salah satu ukuran orang bahagia adalah merasa bahwa waktu cepat berlalu. Begitu juga di hari itu. Dan nggak terasa sore itu jam menunjukkan jam setengah enam sore. Seolah membayar waktu keterlambatan, sore itu Dia melebihkan waktu ketemuan selama tiga puluh menit.

Kami keluar dari kedai itu sama-sama. Menunggu tukang parkir mengeluarkan motor kami masing-masing. Dia mengalungkan tasnya di tangan dan memakai jaket.

         “Makasih ya, Na.” Katanya.

        “Iyaa. Nggak bawa kucir rambut po?”

      Jawab Dia, “Nggak, eh nggak lagi mau pake juga sih.” Lalu aku membantunya memakai helm.

        “Hati-hati yaa.”

        “Iyaaa, sampe jumpa.” Katanya.

Tepat pada waktunya jam tangan di tangan kiri kembali berhenti. Kami keluar dari parkiran. Dan sama-sama meninggalkan tempat itu.

Tapi dengan arah yang berbeda.


 

Di Belakang Kamu Bilang, Di Depan Kamu Diam

Sedikit update. Jadi akhir-akhir ini nggak bisa nulis diblog karena sibuk ngurusin nyari tanda tangan dosen sama nglengkapin berkas biar surat keterangan lulus cepet keluar. Dan akhirnya, semua kelar. Fiuh. Kedua, di awal bulan aku sempet ikut rangkaian acara Stand Up Comedy Juru Bicara punyanya Pandji. Termasuk juga dapet kesempatan Meet And Greet yang isinya nonton bareng Menemukan Indonesia ditambah sesi tanya jawab sama si doi. Hasilnya kita bisa selfie bareng dan dapet sudut pandang yang baru. Faigk!

Soal stand up nya Pandji, salah satu bit yang aku suka di hari itu adalah dunia pertelevisian Indonesia yang makin parah. Dikit-dikit sensor. Sensor dikit-dikit. He. Menurut Pandji yang sudah malang melintang di dunia telivisi (pastinya). Kalo masalah sensor menyensor sebenarnya bukan salah KPI tapi KPU (lah kok jadi pemilu?). Oke-oke serius.

Masalah sensor menyensor sebenarnya bukan salah KPI tapi salah si stasiun tivi. Jadi sebenarnya KPI hanya bertugas sebagai pihak yang memberi teguran kepada stasiun tivi kalo ada siaran yang menyalahi aturan. Dan sensor dilakuin sama tivi tanpa ada campur tangan KPI. Nah, menurut Pandji sebenarnya orang-orang tivi terlalu sensitif untuk melakukan sensor terkait apa yang mau mereka siarin. Orang-orang tivi mikirnya kalo pemikiran pemirsa sama dengan pemikiran mereka. Misalnya, orang tivi mikir kalo pemirsa melihat belahan dada akan jadi napsu. Padahal bisa jadi yang napsuan sebenarnya orang-orang tivi (proyeksi). Lah berarti yang bermasalah pemikiran mereka dong? Bukan pemikiran pemirsa. Lagian, nggak semua pemirsa mikirin kayak begituan. Jadi jangan pukul rata dong. Begini dah akibatnya, dikit-dikit maen sensor. Nggak usah belahan dada deh. Susu sapi yang lagi diperah aja disensor. What the hell!! (Ehm, bahasa Inggris aku bener kan ya?).

Sebenarnya, selain soal sensor menyensor dari dulu banyak stasiun tivi di Indonesia yang nayangin acara yang nggak penting. Salah satunya infotainment. Kebanyakan acara infotainment di Indonesia sukanya bahas-bahas hal yang sepele. Misalnya bahas harga sepatu artis si A atau isi tas artis si B (ini juga sempet dibahas sama Pandji). Dan infotainment Indonesia cenderung mengarah ke gosip. Dan gosip identik sama ngomongin kejelekan orang lain. Nggak usah jauh-jauh di tivi deh. Bahkan belum lama ini pas aku sama temenku lagi makan. Tepat di depan kami ada tiga orang cewek yang lagi ngomongin kejelekan orang lain.

Gini ceritanya. Jono seorang temen pengen makan pepes. Ya udah to ya, aku ngikut aja karena dia pengen makan pepes dan aku juga nggak keberatan kalo malam itu makan pepes. Berangkatlah kami ke warung pepes. Awalnya, kami duduk dengan damai dan sejahtera. Tapi beberapa menit kemudian tiga orang cewek duduk di depan kami. Dan sejak mereka duduk sejak itu pula bencana bagi Jono dan aku.

Sedari awal makan sampe piring jadi kosong mereka bertiga nyinyir mulu. Kalo dari ceritanya sih mereka ngomongin satu orang yang mereka anggap sebagai biang kerok dari ketidakbecusan sebuah kepanitiaan. Iya, kayaknya mereka bertiga adalah mahasiswa. Mulai dari ngomongin si A sukanya marah-marah dan sukanya protes mulu. Dan kedengarannya dari cerita mereka, si A ini kedudukannya tinggi. Mungkin Yang Mulia (ini kepanitiaan atau Benteng Takeshi?).

Okelah, ngomongin orang lain itu hak mereka dan urusan mereka. Tapi masalahnya terselip kata-kata kasar di saat mereka ngomongin si A. Di tambah volume omongan mereka cukup keras. Di tambah lagi mereka ngomongnya di depan umum. Sinting! Sempat juga mereka kami tegur mereka sambil menyindir. E tapi dasar kuping kesumpel popok bayi kali ye. Ditegur sambil disindir tetep aja nggak ngerasa. Sinting! Oke, cukup. Aku kebawa esmosi.

Ehm, kata yang tepat untuk mereka adalah salah tempat. Kenapa mereka nggak ngomong langsung ke si A kalo sebenarnya si A itu salah dan Si A itu kerjanya nggak becus. Memangnya ketika ngomongin si A dibelakang keadaan akan berubah? Salah satu dari mereka bilang, “Lah tadi si A, sok ngasih tahu kalo tempat Z nggak ada yang jaga. Heloo, emang kamu (si A) ke mana aja pas yang lain lagi sibuk jaga. Harusnya kamu (si A) yang jaga dong!”. Lalu yang lain jawab, “Kamu bilang gitu ke si A?”. Orang yang tadi ngomel jawab, “E.. enggak. Aku cuma kepikiran aja.”. Gubrak! Sandal jepit lo! Beraninya di belakang doang.

Entah sejak kapan, aku udah lupa. Aku semacam bikin janji sama diri sendiri untuk nggak ngomongin keburukan orang lain di belakang. Dan berlagak baik ketika ketemu orangnya. Bukan berarti aku nggak pernah ngelakuin sih. Pernah. Lah barusan tulisan tadi kayaknya habis ngomongin orang deh. Tapi jarang banget dan berusaha ngilangin hal macam gitu. Bahkan kalo ada orang yang suka ngomongin kejelekan orang biasanya aku berusaha nggak ikutan atau ngerem diri sendiri supaya nggak “kepanasan”. Maksudku berusaha untuk nggak kemakan omongan. Sejauh ini kalo aku nggak suka sama seseorang aku akan bilang ke orangnya langsung. Atau membenci sifatnya tapi bukan orangnya. Atau paling mentok nggak mempedulikan orang itu. Dan kurasa itu adalah pilihan terbaik saat ini daripada ngomongin di belakang dan menjelek-jelekan orang itu. Bagiku itu bukan termasuk ke dalam pilihan.

Mungkin ketiga orang tadi emang baik, cuma karena lagi marah aja. Makannya mereka ngomongnya di belakang. Dan semoga aja sih apa yang mereka lakuin bukan jadi kebiasaan. Ayolah emang apa sih manfaatnya punya kebiasaan ngomongin kejelekan orang?

Kecuali kalo ngomongin kejelekan orang jadi salah satu syarat bagi manusia untuk masuk surga, menambah karma baik, atau membuat hidup di masa mendatang jadi lebih sejahtera. Nah, kalo kayak gitu manfaatnya, mungkin aku akan sering ngomongin kejelekan orang. Jadi sebuah kebiasaan. Bahkan jadi agenda saat keluar rumah. Menjadi alasan utama untuk melupakan keadaan pertelevisian Indonesia yang semakin parah saja. Tolak sensor belahan dada!