Dari Sekian Banyaknya


Ada banyak hal yang aku pikirkan akhir-akhir ini. Salah satunya adalah blog ini.

Tepat 4 Oktober 2016, aku memutuskan untuk membeli domain dan pindah ke blog ini. Suatu keinginan yang akhirnya terwujud setelah menyisihkan beberapa uang. Yeeeyy! Itu pun di minggu-minggu pertama blog ini jadi, aku harus berhadapan dengan satu masalah.  Yaitu, aku baru ngeh, kalo ternyata sebuah blog bisa terkena virus.

Sewaktu blog ini terkena virus pun, spontan aku kaget karena ketika blog ini dibuka, tiba-tiba halaman depan blog terlihat putih bersih, kayak bayi yang baru lahir. Setelah kaget, di depan layar laptop aku hanya bisa bengong, garuk-garuk kepala, sambil nyengir kuda, “INI BLOGKUU KENAPAAAH?”

Singkatnya, meski sebenarnya proses itu nggak singkat, akhirnya blog ini kembali seperti semula setelah berkonsultasi dengan salah satu penyedia jasa pembelian domain di mana aku beli.

Tapiiii….sejak per tanggal 4 Oktober 2016 blog ini lahir, ceprot, lalu oek-oek, baru tulisan Ketemu Kamu yang berhasil aku tulis. Sisanya hanyalah postingan-postingan lama dari blog lama yang aku pindah ke blog ini.

Ada banyak hal yang aku pikirkan akhir-akhir ini.

September 2016, sebulan sebelum membeli domain, aku akhirnya mulai merancang sebuah naskah buku. Dan barulah bulan November sebuah naskah coba aku tulis secara utuh. Sedianya sendiri, naskah itu selesai secepat mungkin. Tapi pada perjalanannya ternyata banyak tulisan yang harus diubah bahkan ada juga yang harus diketik ulang. Proses ini terus berulang sampai aku menemukan format yang pas, dan sesuai apa yang aku sukai.

Proses ini terjadi sampai sekarang. Jadi jika dihitung sejak postingan ini terbit, maka sudah lima bulan aku menulis buku nggak kelar-kelar. Dan ada kemungkinan waktu itu akan terus bertambah. Jadi mungkin bisa disimpulkan kalo bukuku akan terbit pada akhir jaman.

Ya, nggak lah!

Gini-gini, targetku sendiri, tahun ini 2017 buku itu terbit. Tapi dengan catatan, penerbit yang aku inginkan langsung menerima naskahku dan bisa diterbitkan. Mengingat, bagi yang belum tahu, proses mengajukan naskah sendiri cukup lama. Rata-rata semua penerbit maksimal akan memberi waktu selama empat bulan untuk melihat sebuah naskah buku, dan jika lebih dari itu nggak ada kabar, maka sudah pasti naskah itu ditolak. Terus kalo ditolak? Ya nyari penerbit lain, begitu terus sampai ada penerbitan menerima sebuah naskah buku. Makaaa, ya sudah bisa dipastikan bukuku memang akan terbit pada akhir jaman.

Sial, keknya emang gini deh nasib gue.

Bercanda ding. HA! Amit-amit (sambil ketuk-ketuk meja). Ya, doakan saja ya, naskahnya segera selesai. Amin.

Nah, lalu apa hubungannya dengan blog ini? Hubungannya adalah, selama aku menyelesaikan naskah itu, dengan terpaksa aku menyimpan keresahanku dan nggak aku tuliskan di blog ini. Sebagai gantinya, secara penuh, aku membagikan keresahanku ke dalam naskah itu sendiri. Jadi itu kenapa aku jadi jarang update lagi. Padahal punya blog itu, seperti punya istri, harus dirawat dan diperhatikan. Pun juga dengan sebuah blog, perlu diperhatikan dan diberi postingan berkala. Dan kalo sudah gitu, semoga dengan keadaan ini aku nggak ditalak tiga sama blogku sendiri.

Lagi, ada banyak hal yang aku pikirkan akhir-akhir ini.

Selain menulis, sebagai seorang yang sudah lulus kuliah, sekarang aku masih berjuang mencari pekerjaan. Dan yhaa, sampai postingan ini terbit, belum ada satu pun tempat kerja yang berjodoh. Sekali ke Ungaran, dua kali ke Jakarta, dan dua kali di Jogja. Masih nihil semua.

Tapi meski begitu bukan berarti hal itu nggak ada sisi baiknya. Karena jawabannya jelas pasti ada, dan aku sudah merasakannya.

Selain waktu menganggur bisa digunakan buat menyelesaikan naskah buku. Ternyata di sela-sela itu, ada hal-hal lain yang aku pikirkan, bisa aku wujudkan. Diantaranya, akhirnya aku bisa membeli dua album dan satu album berisi sebuah pentas kolaborasi milik Banda Neira. Lalu, keinginan buat mengecat tembok kamar akhirnya bisa juga keturutan. Bahkan bersama masku—sebutan kakak laki-laki dalam budaya Jawa—kami bisa mengecat ruang tamu dan ruang tivi. Dan belum lama ini, kami bisa memperbaiki motor bapak yang sudah lama sekali bobrok, nggak terawat.

Sekali lagi,  ternyata ada banyak hal yang aku pikirkan akhir-akhir ini dan diantaranya sudah berhasil aku wujudkan. Sekarang tinggal mewujudkan sisanya pelan-pelan. Somehow, aku menikmati proses itu, tapi kadang juga aku mengalami stres karenanya. Dan kupikir ini terjadi memang karena sewajarnya seperti itu.

Tapi ada hal yang cukup melegakan bagiku, diantara riuh redannya banyak pikiran di kepalaku, sekarang aku sudah tidak lagi memikirkan kamu.