Diary

Teman Imajinasi


Aku adalah orang yang suka berimajinasi. Ini kenapa aku suka berpikir mesum. HA!

Nggak, nggak gitu ding!

Ini juga yang menjadi salah satu alasan kenapa aku suka sekali membaca novel. Karakter yang diciptakan oleh penulis dengan penggambaran yang cukup jelas mampu membuatku berimajinasi, bagaimana karakter itu jika hidup dalam dunia nyata.

          Imajinasi..nasi..nasi..nasi uduk, peffff.

Beberapa minggu yang lalu aku diajak buat nonton film sama saudaraku. Dan sebagai orang yang tahu dan sadar betul kalo rejeki jangan ditolak, maka ajakan tadi aku iyakan.

Film yang kami tonton itu sendiri adalah The Boss Baby. Sebuah film yang menceritakan seorang bayi nggak biasa yang turun ke bumi untuk menyelesaikan sebuah misi. Sebuah film animasi yang kocak abis, bahkan banyak sekali komedi situasi yang punch line nya susah sekali untuk ditebak.

Singkatnya, salah satu adegan di film itu menceritakan seorang Tim Templeton yang memata-matai Theodore seorang Boss Baby yang juga adiknya sendiri. Templeton curiga kalo adiknya itu bukan bayi biasa, bahkan adiknya itu bisa bicara dan berpikir bak orang dewasa.

Sisi menariknya, adegan ini sengaja memposisikan penonton ikut dalam dunia Templeton, penuh dengan imajinasi dan ikut merasakan bagaimana dia saat jadi seorang mata-mata. Kadang juga dia memata-matai bersama dengan teman imajinasinya, yaitu sebuah boneka dinosaurus. Atau saat adegan dia dihukum sama orang tuanya, dalam imajinasinya dia seperti sedang dipenjara ditemani teman imajinasinya yaitu jam kamar tidur berbentuk penyihir tua.

   Templeton dan Theodore sedang berfoto memakai                   toga dan lulus dengan predikat cum laude. 

Sepanjang pemutaran film, DreamWorks berhasil membuat penontonnya larut dalam imajinasi Templeton. Dan seperti encoding specificacy dalam sebuah memori jangka panjang, The Boss Baby berhasil memancing ingatanku nan jauh di sana sekaligus mengajakku untuk bernostalgia.

Sama halnya dengan Templeton, dulu aku juga punya teman imajinasi. Meski aku punya teman-teman satu komplek, hal ini nggak membuatku berhenti berimajinasi kalo aku punya teman yang nggak nyata.

Meski ini juga lumrah  dalam perkembangan psikologi, tapi dulu bapakku sempat bingung ketika ditanya seorang tukang yang lagi benerin rumah kami waktu itu, “Pak, Kires itu anaknya siapa yha?” Seorang tukang tadi kebingungan, karena saat bermain, aku selalu memanggil nama seseorang. Tapi nggak terlihat sama sekali siapa orang itu. Dan bagi tukang tadi nama itu terasa asing.

Mungkin pikirnya, aku sedang bermain dengan salah satu anak tetangga di komplek kami. Tapi sebaliknya, mungkin bapakku berpikir kalo aku sudah….gilaaa.

Nggak, nggak gitu juga sih.

Sebenarnya aku juga nggak tahu hari itu bapak menjawab pertanyaan tadi dengan jawaban seperti apa. Bisa jadi bapak menjawab, “Oh ini paling teman mainnya Igna di TK.”  atau, “Ah masak ndak tahu. Itu lhoo, anaknya Neil Armstrong.”  atau jawaban lain bernada putus asa seperti, “Ndak tahu juga itu mas, kayaknya anakku emang beneran gila.”

Kalo nggak salah, ada empat teman imajinasiku waktu kecil dulu. (Buset, banyak banget yak?). Namanya, Kirun, Kires, Jina, dan Edi Asli. Kalo ditanya, kenapa namanya Kirun, Kires, Jina, dan Edi Asli? Jawabannya, GUEH JUGA KAGAK TAUK.

Yang paling aku ingat, mungkin Kirun dan Edi Asli. Nama Kirun, mungkin aku ambil berasal dari salah satu komedian jaman dulu yang punya nama yang sama. Sedangkan Edi Asli, diambil karena dulu ada seorang tetangga bernama Edi. Dan untuk membedakan keduanya, aku menamai teman imajinasi itu sebagai Edi Asli. Yang nyata-nyatanya sebenarnya malah palsu. Duh.

        Beliau adalah Kirun. Komedian era 90 an

Sisanya, Kires dan Jina, aku benar-benar nggak tahu nama ini berasal dari mana dan artinya apa. Tapi marilah sejenak kita anggap, apalah arti sebuah nama. Ceilah.

Dari ketiga teman imajinasi tadi, aku pikir semuanya adalah berjenis kelamin laki-laki dan berusia sebaya, persis seperti usiaku waktu itu.

Oh ya, selain aku, ada teman satu komplek sebut saja Tukijo yang juga tahu keberadaan mereka. Dan kami berdua, entah kenapa bisa berandai dan berimajinasi dengan ke empat teman imajinasi tadi. Jadi intinya, kami berdua fix emang…..gila.

Teman imajinasi ini hanya muncul ketika kami bermain jenis permainan yang membutuhkan banyak orang dan butuh karakter penting. Seperti, polisi polisinan, atau bermain bajak laut.

Kami bak sutradara dalam sebuah film yang mengatur peran mereka masing-masing. Kapan mereka dibutuhkan, atau dialog apa yang harus mereka ucapkan dalam suatu adegan. Dialognya mereka sendiri, kami juga yang mengucapkan. Dan sering kali, Edi Asli mendapat peran sebagai antagonis.

Semua itu tersusun dalam kepala kami, dalam sebuah imajinasi.

Lambat laun pun aku tumbuh dan usiaku bertambah dewasa . Lalu dengan otomatis juga, teman imajinasiku tadi menghilang, karena dalam perkembangan psikologi peran mereka sudah tidak dibutuhkan. Atau jika nggak dan mereka masih ada, mungkin aku sudah dianggap skizophrenia.

Tapi meski sudah nggak ada, mari berimajinasi sejenak, berandai bagaimana nasib mereka sekarang setelah sekian lama.

Jika mereka dulu punya umur sebaya, seenggaknya mereka sekarang sudah berumur sekitar 23. Jadi mungkin saat ini mereka masih ada yang fokus menyelesaikan skripsinya, atau mungkin sudah lulus, dan berlanjut S2. Bisa jadi ada yang sudah berusaha mapan dan sudah bekerja. Atau sebaliknya, ada yang masih berjuang bagaimana caranya bisa mendapat kerja.

Atau kemungkinan yang terakhir. Ada yang sudah mapan dan berkecukupan segala-galanya. Bahkan jodoh sudah ada, lalu menikah, dan membangun rumah tangga. Punya anak, dan anaknya punya teman imajinasi berumur sebaya. Teman imajinasi bernama  entah siapa, yang ketika ayahnya ditanya yang dimaksud anaknya itu siapa, ayahnya bingung mau menjawab apa.


Sumber gambar:

http://www.wovgo.com/wp-content/uploads/2016/01/imajinasi-spongebob.jpg

https://www.landmarkcinemas.com/media/381691/boss-baby-movie-clip.jpg

http://www.kampunglucu.com/wp-content/uploads/2015/06/ejtcom_cak-kirun-685×320.jpg

 

20 thoughts on “Teman Imajinasi

  1. Wah aku pernah dengar materi ttg pengaruh teman imajinaai ini ke psikologi anak.

    Ada baik nya… Ada juga buruknya.
    takutnya nanti paa lagi main ama temen komplek. Dia jadi ga bisa join gitu.. malah tetap sibuk sama teman imajinasinya…

    Dan biasanya memang teman imajinasi ini bisa kebawa sampai dewasa. Wahh.. agak agak gimana gitu..

    Btw film nya kayaknya boleh juga tuh.. tapi males download nya. Hohoho

  2. Kalau dibaca sekilas namanya teman imajinasiya dulu itu ko nyambung gitu ya, Mas..hehe

    Terkadang aku juga suka teringat dengan teman-teman masa kecil. Sama gak beda jauh mkirnya sekarang keadaannya gimana, apakah udah nikah atau belum, dan yang lainnya..

    Oh ya, aku barusan search film The Boss Baby. Sepertinya seru, aku coba cari dan tonton. Lagi-lagi hari ini dapat info film baru.

    Btw, salam kenal ya Mas Igna. Baru pertama main kesini 🙂
    Semoga terus terjalin silaturahmi 🙂

    1. Tonton, kamu harus nonton. Hahaha. Pokoknya film ini kocak abis.
      Oh ya, salam kenal juga yaaa. Amin, hidup dunia perbloggeran

  3. Aku nggak pernah punya teman imajinasi sih, dan pas baca postinganmu kamu sampai punya lebih dari 1 teman imajinasi, woooow!!!
    Tapi anak-anak kalau nggak punya imajinasi ya g asik kan.. kebahagiaan anak-anak itu kan berasal dari imajinasinya. Mau main masak-masakan, tembak-tembakan, kita selalu pake imajinasi biar mainnya semakin seruu!!!!

    1. Iya, aku juga heran tuh, kenapa bisa sampe banyak kayak gitu. Tapi untunglah itu nggak keterusan. Hidup berimajinasiiii!

  4. Klo pas TK sih agaknya emang banyak yang kayak gitu. Secara otak kita lagi dimasa perkembangan luar biasa. Bahkan maenan aja berasa hidup beneran. Iya kan? Hehe

    Juga juga gitu, walaupun gak sampe namain temen-temen imajinasi.Tapi gue inget, klo maen apa gitu, itu berasa nyta dan hidup

  5. Kok aku malah fokus ke Boss Baby ya? Pengen banget nonton tapi belum kesampaian 🙁

    Oh iya masalah teman imajinasi sih aku gak punya, tapi dulu aku sering ngayal tentang dunia sendiri gitu. Film favoritku dulu itu Power Ranger, jadi tiap hari itu aku ngebayangin cerita Power Ranger tapi dengan karakter yang aku bikin sendiri, alur yang dibikin sendiri, pokoknya semuanya semauku deh. Kadang dua tiga hari itu ceritanya baru tamat dan nanti lanjut cerita baru lagi.

  6. haha aku malah punya murid imaji, waktu sede gitu aku jadi guru palsu, dan murid nya aku imajinasiin haha… kalo kita pernah punya teman imaji berarti kita seumuran, dan bener kita seumuran.

    aku sensi dengan kalimat “ada yang masih berjuang bagaimana caranya bisa mendapat kerja.” huhu ternyata aku masih di tingkat itu belum pindah kelevel selanjutnya, btw doakeun yak mana tahu ketemu kerjaaan yang nyata bukan imajinasian haha

    1. hahaha, seru kan yak, dulu pas ngalaminnya :))

      nggak papa kok sensi, aku juga sebenarnya juga sama sih, saat ini juga belom dapet kerja, kadang sensi juga. tapi ini cuma prosesnya aja sih, kelak juga dapet kerja yang cocok kok…amin kita sama sama berdoa biar dapet kerjaan nyata. hahahaha.

  7. hmmmmb teman imajinasi ya, kalau aku sendiri dulu gak punya teman imajinasi mas, teman dunia nyatapun juga gak seberapa hiks syedih akunya.

    namanya masa kanak-kanak pikiran masih polos taunya hanya seneng-seneng aja mas hahaha, untuk film Boss Babby kayaknya seru tuh seperti yang dibilang temen-temen, belum nonton mas tapi kalau mau nonton ya di mana? lha wong bioskop di sini gak ada, hhihihi

  8. orang yang hobi berimajinasi dan yang jago berpikir mesum memang berkaitan mungkin yak. eheheh..
    Untuk teman imajinasi, gue belum pernah ngerasain.. tapi gue punya gambaran karena gue sendiri pernah nonton beberapa film tentang teman imajinasi. tapi, kalau jumlahnya multi alias lebih dari satu mungkin keren juga ya. Ya seenggaknya teman imajinasi nggak akan bisa semunafik teman2 kita di dunia nyata kan 🙂

    1. Aduh kok kesannya aku dianggep jago gitu yak? Bangke, ahahahahahahaha 😛
      Pesan moral: teman munafik itu pasti ada.

  9. Dari cerita tersebut sudah bisa disimpulkan kalo kamu benar-benar gila. Hehe
    Wajar menurutku punya teman imajinasi. Saat kecil aku juga sering berimajinasi. Aku dulu menganggap kalo benda yang aku punya itu hidup. Kayak sepeda, dulu aku menganggap kalo sepedaku hidup, sampe aku kasih nama segala. Jadi bisa dipastikan kalo aku juga gila.

  10. Wih sampe 4 temen imajinasinya, keren. Oh iya, berarti kalau misalnya main sama temen imajinasi itu ngayal secara nyata yg pake gerakan atau gimana sih? Aku gagal paham :((

    Aku dulu sukanya ngayal, orang2nya sih bentuknya imajinasi, tapi selalu beda-beda ga sama terus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *