Diary

Ketemu Kamu


       “Kayaknya bakal telat, karena nunggu temen ke kos ambil barang.” Lanjutnya dalam sebuah chatting, “Kamu pelan-pelan aja yaaa. Maaf…. Kalo orangnya udah dateng aku otw ke situ kok. Soalnya orangnya telat, harusnya janji jam satu soalnya.”

          “Nggak papa…santai nggak usah buru-buru.”

         “Okeee.”                                            

Sebuah jam tangan melingkar di tangan kiri. Padahal sebelumnya jam itu sering sakit-sakitan. Kadang mati kadang hidup. Kadang juga mau aku jual kalo kepaksa dan butuh duit.

Padahal sebelumnya jam tangan itu baik-baik saja. Hanya saja sejak jam itu kehujanan pas aku naik motor, jam itu jadi “sakit-sakitan”. Kalo jam tangan itu bisa ngomong palingan dia akan bilang, “Ya nggak gini juga sih bos. Mentang-mentang gue anti air. Hacuih (bersin).”

Bahkan entah kenapa akhir-akhir ini jam tangan itu sering mati. Ah, mungkin sudah saatnya jam ini untuk diperbaiki. Tapi berhubung jam itu hidup lagi, jadilah sekarang jam itu melingkar lagi di tangan kiri. Jam menunjukkan pukul setengah tiga sore.

Sebelum pertemuan ini terjadi aku sempat ngechat Dia. Chattingan diantara kami pun semula hanya karena bertanya kabar satu sama lain. Tapi ternyata dari chattingan itu aku jadi tahu kalo Dia sedang berusaha buat daftar S2 di salah satu universitas di Surabaya.

Singkatnya Dia menjalani semua tes dengan lancar. Meski ada sekitar 25 soal yang nggak bisa Dia kerjain. Tapi pada akhirnya di hari pengumuman itu datang, Dia berhasil diterima di universitas itu.

Tentu saja aku ikut senang. Karena dulu Dia dan aku satu bagian. Dulu kami berpacaran tapi sekarang Dia dan aku bukan lagi satu kesatuan.

Sebelum Dia berangkat ke Surabaya kami memutuskan buat ketemuan di salah satu kedai di Jogja. “Kayaknya bakal telat, karena nunggu temen ke kos ambil barang.” Lanjutnya dalam sebuah chatting, “Kamu pelan-pelan aja yaaa. Maaf…. Kalo orangnya udah dateng aku otw ke situ kok. Soalnya orangnya telat, harusnya janji jam satu soalnya.”

         “Nggak papa…santai nggak usah buru-buru.”

         “Okeee.”

Begitulah pesan Dia melalui sebuah chatting sebelum aku sampe di tempat yang kami sepakati.

Jam di tangan menunjukkan jam tiga sore. Dan di sinilah aku sekarang, duduk sendirian. Segelas teh susu dengan topping oreo dan coffee jelly di atas meja. Aku menunggu Dia yang belum datang.

Jam di tangan menunjukkan jam tiga sore lewat lima belas. Biasanya ketika menunggu aku akan menghabiskan waktu menunggu dengan ngegame di hp atau membaca tulisan di hp atau buku. Tapi menunggu kali ini banyak kuhabiskan melihat ke arah pintu. Berharap Dia segera datang. Sekaligus gugup, karena untuk pertama kalinya setelah sekitar lima tahun, kami akan duduk di meja yang sama hanya berdua.

Pukul setengah empat kurang lima menit Dia datang. Di depan kasir Dia pun melihat sekeliling dan menaruh pandangannya di tempat aku duduk.

         “Kok duduk di sini sih?” Tanyanya setelah sampe di hadapanku. Lalu Dia duduk.

         “Tadi penuh soalnya.”

         “Pindah agak depan yuk.”

         “Oke.”

Kami pindah tempat duduk. Dia menaruh tas dan jaketnya di atas meja. Lalu aku menaruh hp dan gelas minumanku.

      “Jadi sebenarnya janjian sama orang itu jam satu. Tapi….” Dia memulai percakapan di antara kami dengan menceritakan seorang temen yang datang telat pas janjian. Dan karenanya Dia juga ikut telat.

Dia berdiri lagi mengambil pesanannya yang sudah jadi, segelas teh susu tapi dengan topping yang berbeda. Di meja kami kini ada dua gelas teh susu milik kita masing-masing. Dan sama halnya dengan dua gelas itu, kami menceritakan cerita kami masing-masing.

Aku bercerita tentang sebuah mimpi lama yang sedang aku wujudkan. Sedangkan Dia bercerita tentang apa yang akan Dia lakukan jika selesai S2. Tak jarang kami membicarakan teman kami. Kadang juga kami membicarakan hal sepele seperti, kenapa orang-orang di sebelah kami bisa ngerjain tugas meski suasana berisik. Hmm, sepertinya ini nggak seburuk yang aku bayangkan. Nggak ada kecanggungan diantara kami.

         “Apa lagi ya?” Tanya Dia.

         “Maksudnya?” Aku balik tanya.

         “Lah dari pada diem?” Sepertinya kami mulai kehabisan bahan pembicaraan.

         “Apa ya?”

Lalu kami sama-sama diam. Berusaha mencari bahan pembicaraan. Tapi yang ada aku malah menatapnya lama. Tanpa saling bicara pun, pertemuan ini sepertinya lebih dari cukup.

         “Mbok lihatnya jangan gitu banget?”

         “Eh?” Aku sedikit kaget, “Lah kenapa emangnya?”

         “Ndak papa.”

Kami pun diam lagi. Lalu Dia berusaha menatapku, mata kami saling bertemu beberapa detik. Lalu Dia tersenyum. Semuanya masih sama, senyumnya pasti bikin deg-degan.

         “Jadi kamu hutang tiga puluh menit.” Kataku mengawali pembicaraan.

         “Kok gitu?”

         “Kan katanya dari jam tiga sampe jam lima.”

         “Ya nggak lah, berapa menit sih aku telat?”

         “Uh, sekitar dua puluh lima menit.”

Sebenarnya aku nggak mau melihat jam tangan. Karena takut kalo waktu cepat berlalu dan ingin menikmati pertemuan ini. Belum lagi aku nggak mau mengulangi masa lalu. Dulu Dia pernah bilang kalo kita bakal pergi jalan nggak bisa lama-lama. Itu karena kosan Dia jam malamnya dikit banget. Dan karena itulah aku sedikit kecewa, sedikit ngebut saat boncengan berdua. Saat itu aku belum mengerti betapa kualitas saat bertemu itu lebih penting.

Tapi karena inget jam tangan sedang nggak beres, tanpa sadar aku mengarahkan tatapanku ke jam tangan.

         Lucunya Dia juga tahu apa yang sedang aku pikirkan, lalu Dia bilang, “Mbok dinikmati aja to.”

         “Eh enggak, ini tuh. Jadi akhir-akhir ini jam tanganku sering mati.”

Lalu Dia tersenyum seolah bertanya, “Masak?”

        “Jadi…” Aku mulai bercerita kenapa jam tanganku bisa hidup bisa mati tiba-tiba.

Kami di sore itu terus-terusan ngobrol. Bahkan di tengah-tengah kami sedang ngobrol Dia sempet keselek topping,         “Uhukh. Uhuk. Uhuk.”

        “Ish. Makannya pelan-pelan.”

Dia tersenyum seolah mau bilang, “Iyaaa.”

         Lalu Dia bilang, “Untung toppingnya nggak keluar. Kan bisa kena kamu.”

      “Iya, habis itu aku tangkis. Ciat. Ciat. Ciat.” Kataku sambil menggerakkan tangan seperti ninja yang sedang menangkis serangan.

       “Yee, nggak usah lebay gitu deh. Kan toppingnya cuma satu.” Katanya sambil tersenyum.

Nggak jarang juga kami memperdebatkan hal yang menggelikan dan jawaban dari Dia kadang bikin ngeselin. Sampe-sampe Dia bilang, “Lho. Kan aku jawab jujur Na, hehe. Aku kan orangnya jujur.”

        “Iya sih.”

        “Gimana aku kritis kan?”

        “Iya sih, kamu kritis secara berpikir. Tapi lama kelamaan aku juga kritis. Kritis secara kesehatan. Terus diinfus.”

        “Hahahahahaha.”Dia pun tertawa.

Salah satu ukuran orang bahagia adalah merasa bahwa waktu cepat berlalu. Begitu juga di hari itu. Dan nggak terasa sore itu jam menunjukkan jam setengah enam sore. Seolah membayar waktu keterlambatan, sore itu Dia melebihkan waktu ketemuan selama tiga puluh menit.

Kami keluar dari kedai itu sama-sama. Menunggu tukang parkir mengeluarkan motor kami masing-masing. Dia mengalungkan tasnya di tangan dan memakai jaket.

         “Makasih ya, Na.” Katanya.

        “Iyaa. Nggak bawa kucir rambut po?”

      Jawab Dia, “Nggak, eh nggak lagi mau pake juga sih.” Lalu aku membantunya memakai helm.

        “Hati-hati yaa.”

        “Iyaaa, sampe jumpa.” Katanya.

Tepat pada waktunya jam tangan di tangan kiri kembali berhenti. Kami keluar dari parkiran. Dan sama-sama meninggalkan tempat itu.

Tapi dengan arah yang berbeda.


 

59 thoughts on “Ketemu Kamu

  1. Dua2nya cewe atau gmn sih? Yang nunggu cewe ya kyknya, soalnya mnyinggung kuncir rambut sih hehe.
    Trus suasana canggungnya jg dpt bgt, sesuai dgn momen yg ingin diciptakan, nice 🙂

    Cerita ini bikin dipi teringat seseorang yg dipi suka dulu, klo ketemu dgnnya semodel gitu tuh rasanya… Hahaha

    1. Haaloo Dipi. Ehm, jadi ceritanya yg nunggu itu aku (cowok). Nah yang kucir rambut itu, aku nanya ke cewek itu. Apakah dia bawa kucir ato nggak. Gitu Dipi. Hehe.

          1. Batuk Nyol? Hadeh, nyatalah masak boongan. Hehehe.
            Yang bayar di kedai siapa? Jelas bayarnya sendiri sendiri dong, propesional kita. Haha.

            Ooo. Jadi yang terakhir itu berasa punya temen sepenanggungan gitu yak? Haha

  2. KEREN ceritanya. Gua jadi ikutan baper nih bacanya, soalnya gua juga banyak kenangan sama mantan. Ada satu hal sih pengen gua tanyain. Itu di akhir cerita, jam tangannya kembali berhenti, itu tandanya “waktu” lu kembali terhenti tanpa dia? Berarti lu belum bisa move on ya? Kalo dalam kasus gua soalnya, biasanya setelah ketemuan sama mantan, gua malah jadi bisa let go, dan waktu gua kembali berjalan, meskipun kita berjalan ke arah yg berbeda hehehe.

    Suka banget sama gaya penceritaannya yg deskriptif. Terus berkarya ya, lu ada bakat nulis novel nih hehehe…

    1. Makasih Ko Kev. Jawab pertanyaan: Hehe, sebenarnya itu cuma closing aja sih, setelah pertemuan itu apa yang dirasain dan apa yg mau dilakuin selanjutnya gitu. Dibilang belom move on sih. Mungkin lebih tepat kalo dibilang belom iklas. hehehe.

  3. wkwk… ketemu mantan toh yaa mas, sihiyy… mengingatkan memori lama ya. Jadi ini cerita pegalaman pribadi atau fiksi belaka???
    Kayaknya pertemuan yang singkat banget yaa, tapi menikmati ya sepertinya kalau dilihat dri alur critanya 😀

    Kalo aku memang pernah juga sih berada di posisi dimana kehabisan bahan bicara dan abis itu kikuk gak tau mw ngomong apa,pling katwa gaje, sambil nikmatin cemilan, atau bahkan lirik dikit, selasai, terus ketawa…hhaha… Nice post mas, lanjutkan!!

  4. Wahhh hebat nih… Bisa ketemu lagi sama mantan dan masih hidup untuk menceritakan kisahnya.. Wkwk
    Gue jadi pengen tau alasan kalian putus.. *Kepo
    Enak bgt Mas baca tulisannya, nyaman, baca malem2 gini pun nggak bikin ngantuk..
    Suka pas di akhir tulisan, jam berhenti berdetak dan pergi kearah yg berbeda..
    Dpikiran gw langsung terbesit maknanya yaitu, si cowok (mas nya) blm bisa move on.. Tapi sayang gk bisa barengan lagi.. #Pukpuk

    1. kalimat”masih hidup untuk menceritakan kisahnya” itu kok kesannya gimana gitu yha? hahaha. Waduuh alasan putus? Rahasia yee. hehe. Yang jelas, Makasih buat hastag pukpuk nya. haha

  5. Kayaknya bagian yang paling romantis pas lo bantu makein helm deh ah cute ..

    Kayaknya lo bakal balikan lagi nih ?
    Langsung nikah aja lah.

    Nanti kira kira lo bakal ketemuan lagi ga nih ?

    Lo pasti kangen banget saat – saat dimana minuman lo semakin dingin tapi perbincangan lo semakin menghangat.

  6. Kalau saling diam diam itu artinya suka lho hahaha
    Ceritanya lumayan sweet karena ga pada mau ngawali pembicaraan sampai akhirnya endingnya harus berpisah dengan tujuan beda. Romantis jg saat di prakiraan itu pakai helmnya uhuk

    1. Wesek. Sekarang juga ngeblog nih yeee. Cerita yang cv dua taon dong pak. Hehe. Blog ini dikembangkan melalui waktu luang dan peluang seorang bujang. Semoga menghibur ya.

  7. komunikasinya komunikasi yang ngademin bro, hahaha. bener banget, ngerasa waktu cepet berlalu itu salah satu tolak kebahagiaan. hahaha, gue suka guyonan yang kritis secara berpikir dan kritis diinfus.

  8. Ada dua orang insan yang lagi duduk di sebuah cafe, menceritakan keluh kesah, membahas apa yang mereka suka. Gue suka ceritanya, daritadi gue baca alurnya ngalir, gak berbelit-belit. Rasanya gue ada di cafe itu sedang memandangi mereka itu. Ditambah menarik dengan percakapan dua insan tersebut.

    Dilanjut gak nih ceritanya? 😀

  9. Bahasa kedainya sunggu membuat gue kaget. 😀 Begitulah bg Igna. Sederhana sekali orangnya. 🙂

    Entah kenapa ngebaca ini sama seperti komentar di atas. Ngerasa ikut ke dalam cerita. Seolah-olah lagi ngerasain serunya pertemuan kalian. Ya, pengen baper, sih, tapi pas baca endingnya agak nganu.

    Nyesek aja. Pulangnya bareng, tujuannya beda.

    Hem… kalo aja kalian masih pacaran. pasti ceritanya akan menjadi pulang dengan tujuan yang sama. Ah….. 😀

    Gue ngakak juga sih, pas lu ciat-ciat. Btw, keren nih, ceritanya. Runut, santai dan enak dibaca. Nice!

  10. Pertemuan yang menarik. Kualiti time ini namanya. hehe
    Kayaknya bercandanya asyik tuh, walopun agak-agak lebay. hehe semoga bisa terus seperti itu setiap kali bertemu

  11. Gue serasa jadi orang ketiga dalam pertemuan lo dan si Igna yang seakan akan memata matai kalian dengan membaca artikel ini .

    Pertemuannya bagus juga ya , diselingi dengan candaan dalam obrolan santai gitu.

  12. Gimana rasanya bro? Udah lega? Ketemu mantan yang udah lama banget nggak ketemu kayak gitu. PAsti lega banget.

    Kalian sekarang udah punya cerita masing-masing yaa. bahkan si dia udah mendaftar S2. Aku baca cerita kalian diatas berasa seperti ikut dalam obrolannya.

    Meski kalian berdua sudah punya jalan masing-masing sekarang, tapi tetap jalin kontak lahh. Siapa tahu besok kalau udah meraih mimpi masing-masing, kalian berdua bisa balik lagi. Semoga saja.

  13. cuhiye ketemuan sama mantan huahaha.

    emang gitu ya kalo ketemuan sama mantan, walau udah gada rasa tapi becandaan2 gitu selalu jadi senjata ampuh buat asik ngobrol lagi. Gue beberapa kali ketemu sama mantan gue dan ini relate banget :))

  14. Uhukkkk… Ceritanya pas banget alurnya. Santai dan yang pasti nyaman aja dibaca. Keren ey!

    Btw, ini kisah nyatamu ya? Klo iya, udah jadian lagi aja. kalian berdua cocok dan serasi.

    Gue mau tanya lagi nih, yang bayar di kedai itu sapa ya? *Entah kenapa gue malah pengen tanya ini. 😀

  15. wkwkwkwk gue kira ini cerpen ternyata cuma pertemuan dua orang mantan hhhh tapi cara nulisnya enak sih jadi kebawa mengalir dan enak dinikmati. tapi gue bayangin endingan bakalan twist banget sedih atau seneng lah malah ditukang parkir hhhhh

    1. “cuma pertemuan dua orang mantan” ehe, ketemuan sama mantan tuh untuk beberapa orang sangat susah lho. Bahkan ada yang setengah mati nggak mau ketemu. Belum ngrasain ya? Hoho. Jadi ini bukan “cuma”, tapi suatu prestasi dalam berelasi. Wusedeh. Hehehe.

      Yoi, kadang aku juga mikir gitu sih, pas baca ulang ternyata kalo dipikir2 ending ceritanya seperti twist gitu. Hoho.

  16. Suka banget sama cerita di atas. Astaga kapan bisa bikin cerita yang buat pembacanya baper kayak gini haha. Cerita rapi, gak terkesan berlebiha dan membuat imajinasi pembaca berkembang.

    Saran dari gue. Bikin buku yang kayak gini ceritanya. BIKIN hahaha

  17. Jujur ya, cerita yg sederhana gini tuh sweet banget. G banyak embel2 drama tapi ngena di hati, alurnya, gaya bahasanya dapet. Malah menurutku cerita ini kayak kisahmu yang kamu ceritakan kembali.

  18. suka sama tulisannya :v jadi keingat sama mantan #eh
    kalo gue mah ketemu mantan kagak bakal kayak gitu, yang ada handphone lah jadi alasan biar kagak tegur teguran :v

    saran sedikit, kayaknya jam lu perlu dikasih obat biar cepet sembuh.

    hihi semoga balikan, kayaknya kalian cocok…

  19. Ciee, kayaknya lagi PDKT nih. Sama kayak gue nih lagi PDKT. Semoga sukses yaa, bro! Gue PDKT udah sekitaran 5 bulan wkwkwk. 😀 Mau ketemu tapi dia sama gue lagi sibuk.

    Btw, kayaknya lo disini masih canggung ya, bro, ketemu sama dia? Kok pas lagi duduk berdua kadang diem gitu. 😀

    1. Etdah, jadi sekalian curhat nih. Semangat PDKT Ya brow. Hehehe 🙂
      Tapi wahai pemirsa. Sepertinya kamu kurang teliti dalam membaca cerita ini. Coba teliti lagi 🙂 . Sebenarnya yang aku lakuin PDKT ato bukan?

  20. pertemuan kali ini membawa kesan… asekkk
    ya semoga tetap berhubungan baik meskipun udah jd mantan, saling support jangan lupa. Sama lain kali kalau ketemuan lagi kabarin ya, pengen nonton livenya wkwk #bercanda

  21. Cerpennya bagus kak :3 kasih tips dong buatnya gimana, soalnya gue selalu ngerasa cerita gue kurang hidup karena cara gue nulis pembacaan narasinya atau sudut pandangnya kurang pas gitu . Eh tapi ini kisah nyata yak? 😐

    Di cerita leluconnya terkesan ringan tapi masih bisa bikin ketawa. Serasa ikut duduk di cafe itu dan sedang memantau kalian berdua saat baca post ini. Menurut gue bagian yang paling romantis waktu makein helem dan waktu kehabisan kata kata atau bahan pembicaraan.

    Keliatannya bakalan ada sesuatu yang bakalan bersemi lagi nih 😀

    1. Yak betol kisah nyata. Emm kurang hidup ya? Kalo aku sih, sebisa mungkin pas nulis, sambil membayangkan dikepala bagaimana kalo kejadian itu beneran terjadi2. Ato kalo kejadian itu udah terjadi, ya ingat saja kejadian itu sedetail mungkin 🙂 Dan sebisa mungkin kejadian penting dalam cerita itu, yang membuat bumbu cerita jadi menarik jangan sampe lupa dituliskan… gitu. :). semoga membantu.

  22. “Karena dulu Dia dan aku satu bagian. Dulu kami berpacaran tapi sekarang Dia dan aku bukan lagi satu kesatuan”

    Mantan ya ? Kalo kata orang ketemuan sama mantan itu susah, banyak canggungnya.. Kayaknya lu juga gitu pas habis bahan pembicaraan 😀 Benar kah ?

    Btw, jam tangannya itu udah sehat apa masih “sakit- sakitan” ? XD

    1. Coba hayo baca yang teliti :)… Dicerita itu canggung ato nggak?
      Masih nih, jamnya masyih suakit. Belum ada duit buat servis (oke ini curhat sebenarnya) Huhuhuhu

  23. Baca beginian jadi serasa terbawa ke masa lalu, pernah juga ketemuan dengan mantan pdhl sudah bertahun-tahun tak bertemu.

    Bertemu sekedar bercerita tentang kehidupan baru satu sama lain, hahaha

    Suka sama story telling-mu bro, terasa manis-manis gimana gt 😀

    Btw jam tangannya jual aja 😀

  24. Ceritanya sama apa yang terjadi denganku kemaren. Nggak ada hujan, nggak ada angin (tapi adanya petir), Dia tiba-tiba ngechat gitu. Basa-basi, minta ketemuan. Abis itu ketemuan, ngobrol ngalor ngidul. Bahas yang lalu-lalu. Akhirnya, keinget dan masih gak bisa move on.

    Ah, kenapa harus ada mantan… *kok jadi melow gini*

  25. bisa gitu ya sama mantan? biasanya kalo sama mantan mesti canggung bahkan ada yang musuhan. aku gak tau tuh sama yg sampe musuhan gitu wkkwkw

    semoga kedepannya tetap saling mendukung ya, karena silaturahmi itu penting hehe

  26. Bisa ya jam tangan jadi bahan obrolan. Hehe. Sukses sudah nulis cerita yang ngalir. usul aja sih, berporses memang. Dari diksi dan EYD diperbaiki lagi. Asah terus kemampuannya. Ntar pasti jadi lebih kece. Selamat ya:)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *